Welcome

Sarang Nicuap dibuka untuk umum. Apapun yang anda lakukan di sini tidak akan dipungut biaya apapun. Kecuali akses internet pastinya! Enjoy Reading!! :)

Senin

Permohonan Maaf untuk Bapak Profesor Marsigit

Hari ini adalah bagian dari busy-student-long-weekend-ku. Dari hari jumat sampai senin aku libur. Tapi bukan berarti aku bisa liburan. Karena dari hari Jumat hingga Minggu tadi aku dan teman sekamarku sama sekali tidak merasakan yang namanya liburan. Karena hari-hari libur kami benar-benar kami gunakan untuk menyelesaikan tugas kuliahku, salah satunya filsafat ilmu. Bayangkan saja 650an postingan filsafat harus kami komentari dalam satu semester. Sebenarnya bagiku sendiri filsafat adalah mata kuliah yang sangat menarik. Karena pembahasannya yang benar-benar membuka pikiran, mengubah mitos-mitos menjadi logos. Namun tetap saja membaca postingan bertema filsafat sebanyak itu dalam waktu singkat merupakan hal yang sangat-sangat berat. Karena aku tahu filsafat membutuhkan waktu yang tidak sedikit untuk memahaminya.



Dosenku, Prof. Marsigit sendiri seringkali menerangkan bahayanya mereduksi. Tetapi tanpa mereduksi maka tak mungkinlah kami dapat membaca semua postingan Bapak. Mungkin sekedar membaca bisa, namun dengan waktu sesingkat itu tentu kami tidak bisa berfikir secara intensif, ekstensif dan refleksif untuk memahami setiap postingan Bapak. Oleh karena itu saya mohon maaf sebesar-besarnya kepada Bapak atas keterbatasan saya sebagai mahasiswa dengan seabrek tugas sehingga terpaksa mereduksi beberapa postingan-postingan sarat makna bapak (terutama tentang pemikiran-pemikiran para filsuf dalam bahasa Inggris) ke dalam pemikiran dan pemahaman saya yang tidak ekstensif dan intensif ini sehingga menghasilkan komentar yang mungkin masih mengandung mitos-mitos.

Sesungguhnya aku berada dalam dilema. Antara memilih membaca secara ekstensif dan intensif sehingga aku dapat benar-benar memahaminya, merenungkannya, dan merefleksikannya dengan resiko tidak mencapai target untuk mengkomentari semua postingan yang akan mempengaruhi nilai mata kuliah dan berpengaruh pada kebahagiaan orangtua; atau memilih mencapai target dengan mereduksi sebagian postingan-postingan tersebut dengan membaca skimming yang berpengaruh pada pemahamanku yang tidak sempurna.

YA, HIDUP ADALAH SELALU TENTANG MEMILIH.

Dan untuk dapat memilih dengan bijak dan tidak salah pilih, maka perlu pemikiran mendalam mengenai efek ke depan, ke samping, ke atas, dan ke segala arah.
Sungguh munafik diriku jika aku mengabaikan kesempatan untuk mendapatkan nilai tinggi. Namun nuraniku untuk belajar, membaca dengan penuh pemikiran, berpikir kritis, nuraniku untuk menyesuaikan isi sesuai wadahku, nuraniku untuk memberikan yang terbaik, tidak dapat aku hiraukan.

Namun aku tetap harus memilih. Aku tetap harus membuat keputusan.

Karena itu berdasarkan pertimbanganku, aku membuat keputusan yang terbaik menurutku. Bukan karena aku mengikuti pemikiran teman-teman yang lain. Melainkan inilah yang hatiku katakan sebagai jalan terbaik. Yaitu tetap berusaha mencapai target meski harus mengurangi jatah tidur dan berusaha membaca dengan penuh pemahaman. Postingan-postingan yang terlalu tinggi dan memerlukan banyak waktu untuk memahaminya, seperti pemikiran-pemikiran para filsuf dan elegi-elegi yang penuh makna, akan kubaca dan kupikirkan secara ekstensif dan intensif di lain waktu. Karena itulah manfaat lainnya Prof. Marsigit menuangkan pemikirannya di blog publik yang dapat diakses kapan saja, agar sewaktu-waktu kami dapat mengaksesnya kembali meski tidak dalam rangka tugas.

Prof. Marsigit sendiri pernah berkata bahwa postingan-postingan yang ia buat adalah hasil berpikirnya dari membaca beragam sumber dan pemikiran para filsuf, dan aku mengasumsikan Prof. pun dulu pasti membutuhkan waktu yang tidak sedikit untuk mempelajarinya secara ekstensif dan intensif. Oleh karena itu, apalagi kami yang seorang mahasiswa yang gelas filsafatnya masih kosong, sungguhlah komentar-komentar kami itu hanyalah remahan-remahan dari sekian banyak sumber dan pemikiran Bapak.

Maka dalam postinganku ini yang memang tujuannya untuk curhat, aku hanya ingin meminta maaf kepada Bapak Profesor Marsigit jika komentar-komentarku masih sangat-sangat kurang. Aku sendiri telah berjanji pada diriku untuk membaca postingan-postingan Bapak dengan lebih ekstensif dan intesif saat aku memiliki waktu luang dan tanpa berbagai tekanan tugas. Mungkin nanti saat aku sedang santai dalam masa kehamilanku aku akan membaca elegi-elegi Bapak sambil mengharapkan anakku dapat menjadi seorang Profesor seperti Bapak. Hehehe. Mohon diamini yaa readers yang budiman dan budiwoman ;)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih atas komentar anda. :)