Welcome

Sarang Nicuap dibuka untuk umum. Apapun yang anda lakukan di sini tidak akan dipungut biaya apapun. Kecuali akses internet pastinya! Enjoy Reading!! :)

Minggu

Sendiri

Kepada siapa aku hendak bercerita?
Bahwa hatiku pernah terluka.
Saat semua orang menganggapku bahagia.
Kepada siapa aku hendak bercerita?
Bahwa aku dalam ketakutan.
Saat semua orang melihatku berdiri tegak.
.
Jangan paksa aku pergi.
Sebab aku belum siap menghadapi mati.
.
Datanglah wahai bintang.
Jemput aku dengan gemerlapmu.
Datanglah wahai bulan.
Peluk aku dalam heningmu.

Jumat

Sebab aku sudah tak memiliki hati lagi.

"Setiap orang pasti pernah memiliki masa lalu. Setiap orang pasti pernah berbuat kesalahan."
Kata-kata itu yang selalu kukatakan pada orang lain yang membutuhkan motivasi untuk melanjutkan hidupnya dan menjadi lebih baik. Tapi mengapa kata-kata itu tak dapat kuterapkan pada diriku sendiri?
Aku tahu betul setiap orang memiliki masa lalu, bahkan mungkin ada yang lebih kelam dari masa laluku. Aku tahu betul setiap orang pernah melakukan kesalahan, bahkan mungkin ada yang lebih fatal dari apa yang pernah kulakukan. Tapi mengapa pengetahuanku itu tak kunjung menghiburku?
Jika ada seseorang yang datang kepadaku mengatakan hal seperti itu, mungkin aku akan menasehatinya untuk berdamai dengan masa lalunya. Memaafkan orang-orang yang telah menyakitinya. Memaafkan segala kesalahan orang lain dan kesalahannya sendiri. Memaafkan dirinya sendiri. Berdamai dengan hatinya.
Tapi mengapa aku tak dapat menerapkannya pada diriku sendiri?
Apa karena itu keluar dari isi hatiku sendiri hingga pikiranku menepisnya?
Ah aku lupa aku sudah tak memiliki hati lagi. Terakhir kali aku masih memiliki hati,  aku memberikannya seluruhnya pada seseorang, untuk kemudian dihancurkan dan dibuang.
Itu sebabnya pikiranku semakin tak tertata lagi. Sebab aku sudah tak memiliki hati lagi.
Yang aku bisa lakukan hanya terus menyesali dan menyebabkan diriku sendiri atas semua kesalahanku. Pikiranku selalu mengatakan bahwa tak akan ada yang bisa memaafkanku. Dari itu aku tak pernah bisa memaafkanku diriku sendiri. Sebab aku sudah tak memiliki hati lagi.

Rabu

The world doesn't know me.

I always been loyal, but I always been betrayed instead.
I never leave, but I have been left instead. 
I am in pain, but I smile instead. 
I hide my feelings, cry, and broke my self,  but I show them the happy me, laugh, and cheer up instead. 
The world doesn't know me.

They told me their sad stories, I cry with them. 
And when I share mine, they told me to forget it and move on. 
For later, they mention it again, and make fun of it. 
They don't know I've tried so hard not to remember.
And it's torturing me. 
But I pretend to laugh with them instead.
The world doesn't know me.

They find me easy to cry for every touching thing.
But I hold my tears for my sorrow under my pillow instead.
They find me always be there for them.
But I never found any body there when I need them instead.
They see me have everything.
But I am nothing and no one for anyone instead.
The world doesn't know me.

Jogja, 230518

Minggu

Hurt

It's hurt when there is no one can hear your scream.
It's hurt when there is no one can see your tears.
It's hurt when there is no one can know your pain.
.
It just too hurt when you scream but have to stay quiet.
It just too hurt when you cry but have to stay smile.
It just too hurt when you suffer but have to stay happy.
.
But it's hurt more when you even can not scream, cry, and show your pain.
.
It is hurt so much.
.
.
.
Jogja,  110617

Kamis

Selamat tinggal.

Aku bukan seorang yang pandai mengungkap rasa.
Juga bukan seorang yang pandai mengutarakan kata.
Aku hanyalah seorang pujangga kalam..
Yang merangkai kata dalam diam.
Yang beruntai air mata di kala malam.
.
Tapi wahai matahari..
Kali ini kumohon dengarkan lah ketulusan hati yg terakhir kali..
.
Sesungguhnya aku tiada menyesal dipertemukan olehmu..
Karena meski bagaimana pun takdir Tuhan jualah yang mempertemukan kita..
Aku hanya menyesal bahwa akhir pertemuan kita menjadi sangat menyakitkan..
Dengan saling melukai..
Dengan saling membenci..
Dengan saling menghindari..
.
Aku menyesal tak mampu membahagiakanmu seperti yang kubayangkan..
Aku memyesal tak mampu menjadi seperti yang kau inginkan..
Aku menyesal tak mampu menepati janji yang kita ikrarkan..
.
Tapi beginilah aku adanya..
Tak pernah mampu ungkapkan segalanya..
.
Meski aku terluka dengan seluka lukanya terluka..
Meski aku hancur dengan sehancur hancurnya hancur
Aku tetap mengharapkan bahagiamu.
.
Karena bagaimana pun aku telah bertekad mengakhiri setiap buku kehidupanku..
Dengan akhir yang bahagia..
Meski bahagia itu bukanlah milikku.
.
Dari itu kini kukuatkan hati..
Menutup satu kisah dalam rangkaian hidupku..
Kamu.
Dan untuk kali ini.
Buku itu tak kan pernah kubuka lagi.
Kisah kita tak kan pernah kulanjutkan lagi.
Sebab akhir kisah ini telah bahagia..
Meski bahagia itu bukanlah milikku.
.
Selamat tinggal kenangan.
Semoga kau selalu bahagia.
.
.
.
Yogyakarta, 080617

Rabu

Racun Rindu

Aku rindu..
Pada suaranya..
Tatap matanya..
Lembut perhatiannya..
Tegas sikapnya..
Aku rindu..
Canda tawanya..
Bungkam rajuknya..
Murka angkaranya..
Aku rindu..
Jauh hadirnya..
Dekat adanya..
Aku rindu..
Dia..
.
Tapi yang kurindu..
Sudah menghilang di cakrawala..
Meninggalkanku dalam kegelapan yang penuh luka..
Pergi jauh ke seberang dunia..
Menjadi seseorang yang tak lagi sama..
Seseorang yang aku tak tahu siapa..
.
Aku berteriak pada luas lautan..
Aku tenggelam pada gelapnya malam..
Memanggil menyebut merapal namanya..
Bahkan merajuk merayu mendendangkan tembang kenangan..
.
Tapi kini jarak kami bukan hanya sekedar lautan..
Karena sang dunia turut memisahkan..
.
Dia sudah tak lagi sama..
Dan aku perlahan berubah terkikis luka..
.
Aku tak tahu bagaimana ia melewati masa..
Tapi metamorfosaku teramat menyiksa..
Merobek kepompong kebahagiaan semangat dan perasaanku tanpa jeda..
Aku terbalut dalam nestapa..
Nestapa racun rindu yang tak ada penawarnya..
.
Kemudian sekelebat cahaya menyeruak masuk ke dalam peraduanku...
Memberiku harap untuk sejenak..
Bahwa kau juga sedang terluka di sana..
Karena aku bisa bernafas lega..
Jika ternyata racun rindu ini turut menyiksamu.
.
Tapi sayang itu cahaya palsu.
Yang datang membuatku tertipu.
Karena nyatanya kau di sana baik-baik saja.
Berusaha merajut kisah lainnya.
.
Dan aku kembali terpuruk dalam kesendirianku.
Panas terbakar dingin membeku.
Jerit tercekat tangis tersedu.
Semua rasa menjadi pilu.
.
Entah untuk berapa lama waktu akan menghianatiku..
Yg kutahu aku berusaha menikmati metamorfosaku..
Mematikan segala rasa dan asa..
Membiarkan diriku hanyut dalam luka dan duka..
.
.
.
Jogja, 050617

Sabtu

Nuguseo?

Daily alarmku yang tersetting jam 2 sudah berbunyi beberapa saat lalu. Dan karena alarm HP ini begitu mudahnya dimatikan, tinggal slide ke atas saja, aku pun mematikannya tanpa repot-repot membuka mataku.
Kemudian aku melanjutkan tidurku, bermimpi.... Untuk kemudian beberapa saat HPku bergetar lagi. Kupikir alarm, lalu kulihat ada deretan nomor tak dikenal menelponku.
Siapa ini menelpon tengah malam?
Apa ada sesuatu yang penting?
Aku penasaran tapi masih mengantuk.
Kemudian aku angkat telpon tanpa nama itu.
Diseberang sana kudengar seseorang dengan begitu bersemangatnya membangunkanku sahur "Sahuuuurrr".
Aku mencoba mengembalikan rohku yang masih di dunia mimpi.
Siapa ini bangunin aku sahur saat aku lagi gak puasa?
Entahlah apa percakapanku selanjutnya, yang kuingat dia tahu nama belakangku, dia tahu lokasi rumahku-rumah orangtuaku tepatnya, bahkan mengaku sudah pernah ke rumahku. Hanya saja dia-entah dia bertanya atau memastikan-bilang apakah aku masih kerja di PLN.
PLN? Sejak kapan aku bekerja di PLN? Sepertinya bohongpun aku tak pernah bilang bekerja di PLN pada siapapun. Jadi tentu saja aku mengelak waktu ditanha masih kerja, aku bilang aku sekarang sekolah atau kuliah lagi dan sedang di Jogja. Sepertinya dia cukup terkejut mengetahui fakta ini.
Kemudian yg kuingat aku sempat bertanya dia siapa. Awalnya dia tidak mau menjawab, tapi akhirnya dia memberi tahuku namanya, "Muhammad blablabla" entahlah namanya tak begitu jelas kudengar. Aku sampai memintanya mengulang berkali-kali tapi tetap tak jelas di otak dan ingatanku.
Dia rupanya merasa kecewa aku tak mengingatnya. Karena bahkan suaranya pun terasa asing di telingaku.
Tapi sikapnya yang mudah tersinggung seperti mengingatkanku pada seseorang entah siapa.
Kemudian dia menyuruhku membuka webku? Web?
Apa ini ada kaitannya dengan curhat-curhatanku?
Aigooo..it's so creepy.
Di akhir pembicaraan dia seperti mengultimatumku untuk mengingatnya dan mengatakan aku tahu nomor telkomselnya yang kemudian dia sebutkan, tapi aku lupa nomor yang dia sebutkan.
It's a little creepy for me, got a phone call in the middle night from someone I have no idea who he is but he knows me.
Anyway pikiran positifku mengatakan "Maybe he is one of my fans" hahaha
Sedang pikiran negatifku mengatakan "Maybe he is one of the swindler."
Sorry to say that man, but I really don't know you. I have no idea about you. And the most important thing is, hey man I just wake up now because your phone call!!!
You ruin my dream that I barely remember he is start to appear in my dream. Argh.....
So please whoever you are, don't hide like a coward and make me confused.
*Lanjut tidur*

Jumat

Insting Ibu

Tadi siang aku menangis kencang dalam diam. Memojokkan diri diatas kasur tipisku. Berusaha membungkam sesesunggukanku yang tak henti bergetar dengan bantal, guling dan selimut. Aku tak ingin mengingat alasanku menangis. Karena rasanya sungguh konyol jika kubayangkan kembali kejadian tadi siang.
Membuang buang air mata dan tenaga untuk seseorang yang tak memikirkanku.
Yah tapi itulah uniknya perempuan, meski terlihat tegar dan kadang sedikit garang, hatinya rapuh seperti rempeyek lebaran. *no offense*
Hey tapi ini serius.. Perempuan itu manusia kuat sekaligus lemah. Sekalipun ia selalu terlihat tersenyum dan baik-baik saja, jangka heran jika ia pernah menangis gila sendirian di kamarnya.
Buktinya aku.
Hahaha.
Ah terpaksa aku membuka kartu. Karena aku tak ingin menyembunyikan diriku lagi.
Lelah rasanya bersembunyi dibalik imej tegar dan ceria.
Kembali ke kejadian memalukan tadi.
Aku sungguh menangis dengan pedih. Seperti ditinggal mati saja. Haha. Yang kuingat berkali-kali aku berteriak memanggil Tuhan dan mamaku dalam kesakitanku. Kesakitan nyata yang mengada-ada. *apasih*
Untungnya kejadian konyol itu tidak lama, karena sahabatku merangsek masuk kamar. Bukan untuk memeluk atau pukpuk. Tapi untuk ngajak nonton drama yang sebelum menangis tadi aku download. *please don't laugh*
Well, sedikit terkejut aku berusaha menyembunyikan mukaku yang basah karena airmata. Berpura-pura tidur sambil beralasan downloadanku belum selesai karena sinyal gangguan. Meski terdengar agak tak percaya dan sedikit memaksa untuk menonton awalnya, tapi akhirnya doa mengalah untuk kembali ke kamarnya.
Membuatku curiga, dia mendengar tangisku tadi. Well I know her so well. We have been besties since 12 years ago. Altough we never say sweet words, we care each other. Our relationship is not just friendship, it's sister-ship.  *lol*
Dan ajakannya dia untuk menonton itu semata-mata ingin membuatku berhenti menangis. Am I right? Or I just over khusnudzon? Wkwkwk

Akhirnya karena merasa sedikit embarrased, (bukan karena ketahuannya, tapi karena malu aja aku nangis2) aku hentikan kejadian konyol itu dan mencuci mukaku, kemudian mengajak temen kamarku nonton drama itu. Yah sekalian lah melipur lara. Wkwkwk
Capek juga nangis nangis merutuki diri. Jadi mending nonton aja deh mumpung ada waktu sebelum berangkat kuliah. 😁

Oke, Lanjut ke inti kisah ajaib yang tidak mengada-ada dan nyata.
Belum lama menonton, mamaku menelpon, menanyakan keadaanku.
Aku surprise.
Ini kali kedua aku merasakan sakit luar biasa sampai menangis meraung-raung dalam hati, dan kedua kalinya juga, mamaku menelpon mengecek keadaanku.
Seperti di film-film itu loh, yang seorang ibu langsung menelpon begitu mendapat perasaan tentang anaknya sedang tidak  baik-baik saja.
Ah rasanya hatiku meleleh seketika. Tapi kali ini aku malu sekali. Soalnya aku tidak baik-baik sajanya karena hal konyol. Iya, masalah cinta.
Jadi ma, tolong jangan khawatir. Anakmu di sini baik-baik saja kok. Dia hanya patah hati. Hahaha.
Kalau yang kejadian kedua itu lebih amazing lagi. Lebih ajaib dan sweet daripada yang pertama. Mungkin di lain waktu aku akan membagikan ceritanya sekalian pengalaman tentang penyakitku yang mungkin banyak wanita di luar sana sedang tersiksa dan kebingungan.
Sekian curhatanku hari ini. Dan well, happy to blogging again.
Maaf kalau tiba-tiba aku menulis lagi tapi auranya suram. Maklum lagi patah hati.
Dan aku ingin mencoba membuktikan, benar tidaknya menulis dapat menjadi obat terapi kesedihan.