Welcome

Sarang Nicuap dibuka untuk umum. Apapun yang anda lakukan di sini tidak akan dipungut biaya apapun. Kecuali akses internet pastinya! Enjoy Reading!! :)

Senin

Refleksi Perkuliahan Filsafat Ilmu Pertemuan Kelima



Senin 10 Oktober 2016 adalah kali kelima saya dan kawan-kawan PM-B kuliah filsafat ilmu. Seperti biasa Pak Marsigit mengawali perkuliahan dengan meminta siswa untuk mengatur bangku duduk melingkari Bapak Marsigit. Kemudian kami menjalani tes jawab singkat keempat dengan tema Menembus Ruang dan Waktu sebanyak 50 soal. Lagi-lagi ini Nolisasi. Tetapi alhamdulillah saya tidak dapet nol karena kebetulan aja saya tulis jawaban yang bener. Hehehe.
Karena banyak yang dapet nilai nol lagi Pak Marsigit pun menjelaskan kepada kami tujuannya mengadakan Nolisasi lagi.
“Apa sih nilai 0 itu? Apa sih nilai jelek? Nilai jelek itu suka-suka, terserah saya, terserah guru, terserah pemerintah. Mau dikasi nilai terserah saja suka-suka. Itulah hebatnya subyek. Obyek itu tempatnya tertuduh. Ingin aku peragakan di sini bagaimana semena-menanya subyek bisa menuduh obyek.” Jadi terkuak sudah filosofi dari nolisasi hari ini adalah bentuk peragaan subyek yang menuduh obyek secara semena-mena, dimana Pak Marsigit sebagai dosen adalah Subyek dan kami mahasiswa adalah obyeknya.

 Kemudian Pak Marsigit meneruskan “Nul, nul, nul (sambil menunjuk yang dapet nol). Aku ektrimkam supaya anda itu paham. Itulah kalau anda merasakan bagaimana pedihnya dibikinkan nilai. Besok kalau jadi guru, mau balas dendam? Silahkan saja. Itulah gambaran, Jadi pemerintah bisa saja membuat ujian nasional itu lulus semua dengan cumlaude. Boleh saja. Tidak ada masalah. Buat saja soalnya gampang-gampang. Pemerintah juga bisa membuat sebaliknya, ujian nasional gak ada yang lulus. Kemudian dibanding-bandingkan sama yang bisa, sama luar negeri. Itu mah masalah percaya diri dan tidak percaya diri, godaan, macam-macam sebagainya. India tidak perlu impor mobil sendiri, mereka bisa buat motor sendiri, sekarang malah bisa ekspor ke indonesia. Kita bangga naik mobil india, naik motor india sekarang. Ada mobil tata, ada motor yang bekerjasama dengan kawasaki dan sebagainya. Dulu india gak mau impor mobil. Inilah ontologis dari keadaan manusia di dunia dan di diri kita masing-masing, relatifitas antara saya dan dirimu, antara murid dan guru. Aku tunjukkan, the show must go on. Disamping untuk pertunjukkan hal seperti itu, anda menyadarinya juga untuk menunjukkan yang mungkin ada menjadi ada,
Jadi memang berfilsafat itu jadi makin sensitif. Kalau orang yg ngerti tapi gak paham kan sensitif. Apalagi orang tidur, ada orang lewat tidak mau nyapa, tidak mau senyum. Jadi kita harus terbangun, bergerak.
Kemudian ini saya katakan kepada anda semua problem pendidikan kita yg sekarang sedang kita alami. Entah poltikus itu sengaja atau tidak sengaja atau mau bikin kita runtuh bersama juga gak ngerti, tapi jumlah guru sekarang booming, pengangguran lulusan guru itu bisa mencapai jutaan, karena semuanya ingin menjadi guru, karena sertifikasi. Universitas yang kompeten memproduksi itu dulu tetap, mantan ikip itu 12, tambah UT 1, tambah FKIP sekitar 8, sudah sekitar 20’an. Tapi sekarang menjamur muncul STKIP-STKIP, universitas swasta memproduksi guru, jumlahnya ratusan, tersebar di seluruh Indonesia. Kita berlomba-lomba, termasuk saya. Besok saya membina di Lombok, beberapa bulan yang lalu ke padang. Ini karena saya diminta, laksanakan saja. Ini kebijakan. Saya sebagai pelaksana kebijakan menteri dan sebagainya. Sehingga semangatnya sekarang mempersulit, terutama yang S1. Kalau S2 mungkin dipertimbangkan. Jalur yang berbeda untuk menjadi guru itu S2, continue study, hingga yang nantinya akan tersaring bahwa guru itu minimal S2, dosen minimal doktor. Sehingga kalau bisa kuliah cepat-cepatlah ya, diselesaikan. Baca blog juga cepat diselesaikan, gak usah ditimang-timang saja, dinyalakan, hidup, kemudian tidur. *jleb. Wkwkwk* Ada warna-warna merah ke orange-orange-an, komputer dinyalakan dari tadi malem, begitu tengok, tidur lagi, setiap hari begitu, gak tambah-tambah komennya. Pekerjaan harus dikerjakan, jangan terlalu dipikirkan. Sesuatu itu dikerjakan jangan cuma dipikirkan. Hidup itu begitu, kerjakanlah pikiranmu dan pikirkanlah pekerjaanmu. Sebenar-benar hidup itu begitu. Kalau begitu baru sepertiga dunia, kalau dari awal, kalau dari ditengah sudah separuh dunia, dan separuhnya lagi hatinya. Pikirkanlah doamu, doakanlah pikiranmu, kerjakanlah doamu, doakanlah pekerjaanmu. Ppikirkanlah yang ada dan yang mungkin ada, kerjakanlah yang mungkin ada, silahkan, yang mungkin ada dikerjakan, dipikirkan saja tidak bisa, apalagi yang mungkin ada, harus ada proses supaya yang ada itu harus ada dipikiran.
Kemudian Pak Marsigit meminta kami membuat satu pertanyaan singkat untuk dikumpulkan.
Pertanyaan pertama dari Saudari Asma’: Apa konsep pengabdian?
Jawaban Pak Marsigit: Apapun dalam filsafat, itu adaah berbicara tentang struktur berdimensi di dalam pikiran, dan pikiran itu adalah pintu gerbang menuju duniamu masing-masing. Tapi kalau aku katakan begitu tidak cukup, karena tidak hanya pikiran yang menjadi pintu gerbang tetapi hati kita masing-masing. Maka baik buruk dunia tergantung hatimu. Makna dari dunia tergantung pikiran.
Semua yang ada dan yang mungkin ada, sederhana dan berstruktur. Strukturnya meliputi forma dan substansinya. Formal itu wadah, substansi ya isi, maka kalau anda bertanya apa konsep pengabdian dalam fisafat, yang bertanya juga berstruktur herarki, yang ditanyakan juga berstruktur herarki, pengabdian juga berstruktur herarki. Karena berstruktur herarki maka apa pengabdian yang paling sederhana, apa pengabdian yang paling rendah, dan apa pengabdian yang paling tinggi. Yang paling rendah itu ketemu genusnya. Genus itu potensinya. Potensi itu cikal bakal, bibit kawit atau gatranya. Ada dua macam gatra, ada gatra takdir dan gatra ideal.
Maka mengabdikan diri itu gatra takdir dan gatra pengabdian. Pengabdian bersifat banyak, pengabdian sebagai keadaan dan meliputi sifat manusia, punya gatra. Misalnya seorang kiai terlahir sudah membawa genus, dalam biologi genetika, gen di dalam selnya. Anda bisa berusaha agar anak nanti genetiknya seperti apa. Dengan pikiranmu, misalnya dalam program diet sehingga kurus sekali. Kemudian anda punya anak kemungkinan kurus sekali. Sekarang anda targetkan untuk makan makanan berkolesterol terus, anaknya bisa jadi gemuk. Ini diprogram sejak sekarang bisa mempengaruhi gen yang akan datang. Jadi sekarang terpaksa, ga niat jadi niat kemudian curang kemungkinan genetika anda besok curang, itu namanya potensi, bawaan. Genus dalam fisafat, genetika dalam biologi. Genetika yang diteliti orang adaah genetika yang diam, sedangkan tadi saya sebut keturunan saya kan seperti saya, itu genetika yang berjalan, genus yang berjalan. Sehingga kalau anda sekarang rajin mengaji jadi kiai hebat, ada kemungkinan anakmu atau cucumu akan menjadi kiai hebat. Kalau saya sekarang jadi profesor kemungkinan anak saya atau cucu atau buyut saya akan menjadi profesor. Maka pengabdian juga begitu.
Mengabdi adaah salah satu sifat, sifat dari suatu sifat keadaan obyek terhadap subyeknya. Kalau obyek dengan obyek itu bukan mengabdi. Mengabdi itu bukan istilah filsafat. Itu istiah sosiologi dan psikologi, kultural budaya, sehingga kerajaan ada abdi dalam. Dalam filsafat mengabdi itu cuma suatu hubungan antara sifat satu dengan sifat yang lainnya. Keadaan itu digambarkan dengan etik dan estetika, ukurannya adalah etik dan estetika. Etika benar salah, estetika keindahan. Maka filsafat itu hakekat, kebenaran, keindahan, kemudian di mix, hakekatnya yang benar dan indah, hakekat yang tidak benar dan indah, hakekat yang tidak benar dan tidak indah, dan seterusnya. Itu filsafat, naik sedikit spiritual. Doamu tentang siapa dirimu, kebenaranmu yang baik dan indah. Sholat di keramaian seperti di pasar bisa saja, benar juga, tapi mungkin tidak indah. Tetapi kalau sudah masuk dalam keindahan itu subyektif yaitu diri kita masing-masing. Jadi pengabdian itu seperti itu. Kalau ditelusuri itu kaitannya dengan sosiologi, antropologi. Kalau di ponogoro itu warok yg memiliki kekuasaan tinggi, punya santri-santri, santrinya mengabdi kepadanya. Jadi itulah konsep pengabdian di dalam filsafat.
Pertanyaan kedua dari Saudara Budi: Bagaimana tentang multiple intelegent?
Jawaban Pak Marsigit: Multiple intelegent atau kecerdasan ganda, ya otomatis dengan sendirinya. Di filsafat tidak hanya ganda, gak cuma multiple, tapi unlimited multiple. Seribu kali seribu pangkat seribu masih tidak bisa menyebutkan multiple intelegent itu. Kecerdasan tentang apa, tentang yang ada dan yang mungkin ada. Dia cerdas kepada istri, cerdas terhadap suami, cerdas terhadap rumah tangga, cerdas terhadap sekitar, cerdas terhadap pimpinan, cerdas terhadap lingkungan, cerdas terhadap kata-katanya sendiri, cerdas meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Itu istilah psikologi, fisafatnya kayak begitu. Maka agar bisa menembus ruang dan waktu, tahu sopan santunnya, baca, baca, dan baca.
Multiple Intelegent itu istilah psikologi. Apa bedanya filsafat dengan psikologi? Filsafat itu duduk di lobi, sedangkan psikologi sudah masuk ke gang-gang. Sehingga psikologi ada dua macam, psikologi terapan dan psikoogi wacana. Sebagian dari psikologi wacana atau naratif, itulah filsafat. Sehingga jika dibreak down, kecerdasan, kalau ada multiple seperti yang dikatakan (wat kenya), ada 8. Kalau filsafat yang ada dan yang mungkin ada. Intelegent itu dijabarkan kembali. Filsafat diperdalam dan diekstensikan. Kalau saya menjabarkan intelegent sebagai penglihatan, dia hebat bisa melihat yang ada dan yang mungkin ada. Jadi intelegentnya berstruktur dan berherarki. Yang dipikirkan juga berstruktur berhierarki, dunia ketemu dunia terwakili dengan iconicnya. Bacalah elegi menggapai gunung es. Filsafat tidak untuk dihafalkan, tetapi dihidupkan. Siapa yang hidupkan? Dirimu masing-masing. Aku hanya fasilitator saja, jangan merasa Pak Marsigit terlalu dominan maka diimbangi dengan cara anda membaca supaya anda berdaya. Kalau tidak mau membaca, anda tidak berdaya di sini. Sekali jatuh ya jatuh terus, tertimpa. Menjatuhkan stigma, mitos-mitos. Menurut Pak Marsigit dulu itu saya itu gunung.. mitos itu. Sekarang harusnya sudah berubah.
Berfisafat transenden, metodenya metafisik. Aku pejamkan mata dan beri pertanyaan, aku jadikan kau nilainya nol semua, apa itu gunung? Dalam fisafat ada istilah bahasa jawa sosro bawu, sosro itu seribu dan bawu itu pundak. Pundaknya seribu kalau berperang, kalau berpikir itu multiple intelegent, psikologi masuknya. Kalau filsafat berstruktur berhierarki beri bukti yang ada dan yang mungkin ada. Nilai nol itu berarti tidak ada. Filsafat itu jauh melampaui batas.
Pertanyaan ketiga dari Saudari Ika: Bagaimana konsep doa dalam filsafat?
Jawaban Pak Marsigit: Dalam filsafat bukan menjawab konsep doa adalah apa. Kakiku sedang mendefinisikan, tanganku sedang mendefinisikan, mataku sedang mendefinisikan, pikiranku sedang mendefinisikan, seluruh hidupku yang ada dan yang mungkin ada sedang mendefinisikan. Sebenarnya pertanyaan kalian itu sudah tersirat jawabannya di elegi-elegi saya. Dan jawaban pertanyaan ini ada di elegi menggapai ikhlas. Tidak bisa tuntas didefinisikan. Sebenar-benarnya filsafat adalah adalah penjelasanmu, sebenar-benarnya penjelasanmu adalah aktifitasmu. Jadi nonsene belajar filsafat tanpa membaca. Filsafat itu tulus tidak tipu-tipu. Anda jangan jadi seperti saya, jadilah dirimu sendiri. Anehnya jamansekarang banyak orang tergoda, raja tergoda, islam tergoda, spritual tergoda, orang jawa tergoda, gara-gara duit. Maunya hidup enak, cepat, ringan, murah, gajinya gede. Itulah pentingnya berpikir kritis. Tapi mau berpikir kritis dibunuh, itulah kejamnya dunia material.
Pertanyaan ke empat dari Saudari Maira: Kedudukan ilmu pengetahuan daam filsafat?
Jawaban Pak Marsigit: Sejak awal filsafat sampai akhir zaman nanti, itu tentang pengetahuan dan ilmu pengetahuan dan pola pikir, itu saja kuncinya. Persoalan di dalam filsafat itu ada dua macam, yang dua macam ini gak pernah mencapai tetapi berusaha mencapai. Yang pertama adalah menjelaskan apa yang engkau ketahui yang ada di dalam pikiranmu. Di dalam pikiran saya ada istri saya. Aku gak bakal mampu menjelaskan siapa istri saya, andaikan aku mampu menjelaskan dari awal zaman sampai sekarang, sebelum aku mengakhiri penjelasan, aku sudah berubah jadi aku yang nanti. Masih ada tersisa, aku yang nanti belum tau saya, istri saya seperti apa, apalagi besok. Siapa tau mudah-mudahan istri saya tambah cantik. Belum saya terangkan, padahal tadi aku sudah menjelaskan secara tuntas, itu tidak tercapai.
Sebenar-benarnya manusia tidak ada yang bisa menjelaskan. Apa yang kau pikirkan, hanya berusaha saja. Caranya dengan reduksi, menyebut beberapa sifat kunci dalam batas tertentu dimana satu sama yang lain pengetahuannya sama. Engkau tidak mampu menjelaskan pulau Lombok itu, tapi sampai batas disitu diterima sama persepsinya. Tapi apakah seperti itu lombok? Enggak, masih banyak sekali yang bisa diungkap. Tidak mampu menjelaskan semua yang ada di dalam pikiranmu.
Kenapa kau bisa gambar Lombok kayak gitu. Karena ada pulau lombok di dalam pikiranmu. Adanya di dalam pikiran karena melalui rasio dan pengalaman, berhemenitika. Menit demi menit seperseribu menit demi seperseribu menit. Ketika kau menggambar itu terjadi, gambarnya lurus atau bengkok langsung direvisi. Jika ada orang lain mengatakan, kamu tidak menyadari karena betapa hebatnya ciptaan Tuhan. Bisa melakukan proses yang seperti itu, persoalan kedua yaitu mengetahui apa yang ada di luar pikiran kita. Yang diluar pikiran saya pulau Lombok, pulau lombok masih ada di luar pikiran saya untuk level ini, tetapi kenapa saya bisa ngomong pulau lombok? Ternyata pulau lombok sudah ada di dalam pikiran saya, maka pulau lombok itu ada yang sudah ada di dalam pikiran saya dan ada yang ada di luar pikiran saya. Yang ada di luar pikiran saya adalah yang masih mungkin ada. Bandaranya belum aku pernah liat, itu masih di luar pikiran saya. Begitu aku mendarat maka dia ada dalam pikiran saya.
Sebenar-benar hidup mengadakan yang mungkin ada, maka kerjakanlah hidup itu. Jangan malas. Aku sadar dan aku tidak sadar. Kita perlu hijrah supaya mendapatkan pengetahuan baru. Jangan jauh-jauh. Buka gorden itu hijrah. Kamu jadi mengerti cara buka gorden yang benar. Hebat itu sesuai dengan ruang dan waktu. Petinju itu hebat ketika dia bisa pukul lawannya. Jika disini kau hebat memukul temanmu bukan hebat namanya, tidak cocok dengan ruang dan waktunya. Kehebatanmu itu komennya banyak. Maka keren itu tergantung lingkungannya. Pemuda kampung celananya robek minum-minum itu keren, tapi beda kalau di sini lain kerennya. Kerennya profesor juga lain, kerennya mahasiswa juga lain, calon doktor belajar filsafat pada saya, keren, sama saja kerennya kalo baca blog, banyak komennya. Saya S3 gak mau, gengsi, silahkan, gak lulus gitu aja, nanti tau rasa, yang merasakan tidak lulus siapa, pak marsigit atau mahasiswa? Sehebat-hebat orang itu sesuai dengan ruang dan waktunya. Ketika diminta untuk menunjukkan, hebat itu, maka pikiran manusia macam-macam perkembangannya. Mulai dari awal sampai akhir zaman, kedudukan pengetahuan itu dari awal sampai akhir. Sebenar-benar ilmu pengetahuan itu epistemologi atau filsafat ilmu. Sebenar-benar ilmu pengetahuan adalah epistemologi filsafat ilmu. Filsafatmu tidak ada apa-apa jika tidak ada ontologi dan aksiologinya, satu kesatuan, seperti segelas teh tidak akan punya makna jika tidak ada gelasnya, ada isinya harus ada wadahnya.
Pertanyaan ke lima dari Saudari Mega: Apakah berfisafat pasti seseorang menemukan kebenarannya?
Jawaban Pak Marsigit: Di sini kita berbicara tentang relatifitas bukan kepastian. Jangankan orang berfilsafat, membaca blog saya saja, membaca “jebakan filsafat” kalau saya menerangkan jebakan fisafat, elegi itu ada maknanya lagi. Karena setiap elegi itu adalah tantangan buat anda untuk berpikir. Ini bukan masalah mitos tetapi berpikir. Yang kebetulan sudah baca, baca lagi boleh. Jenuh itu ujian, bedanya S1 dan S2 adalah mengalami kejenuhan karena sudah membaca. Bedanya itu saja. Godaan, jebakan filsafat itu artinya sebagian komentarmu itu salah, karena tidak cocok dengan pikiran saya. Kau merasa seakan-akan sudah mengerti, itulah jebakan filsafat, merasa bisa mengerti, merasa pandai tetapi tidak pandai bisa merasa. Elegi menggapai rumahku yang terlalu besar, elegi tukang cukur, disini itu berpacu, saya berpacu dengan penjelasan saya, dan berbacu dengan anda membuat komen. Bikin komen yang serius tapi jangan terlalu serius. Bagi orang yang tidak mengerti tidak masalah, beli saja buku filsafat di pinggir jalan. Kalau filsafat berziarah itu mengunjungi makam plato makan socrates, datang ke sana untuk memikirkan. Aku ingin mengirimkan pikiranku, sebenar-benar ziarah filsafat itu mempelajari pikiran mereka itu dengan cara baca, baca dan baca. Ziarah dalam spritual tengok hati masing-masing, maka kaitannya dengan keilmuan itu pada levelnya masing-masing. Banyak diantara orang yang tidak menempati ruang dan waktunya. Maka pada ruang dan waktu filsafat, filsuf mengatakan, aku melihat di jalan gejayan itu banyak yang sudah meninggalkan dunia atau mati. mengapa para filsuf mengatakan seperti itu? Karena sebenar-benar mereka tidak mau berpikir, tidak dalam keadaan berdoa. Hidup dan mati itu relatif, hidup mati kapitalis dari sisi duit. Sifat ketemu sifat sesuai dengan ruang dan waktunya. Misalnya bercerai itu cintanya sudah mati, pemain badminton mati tidak bisa mengembalikan smash.
Pertanyaan keenam dari Saudari Ulfa: Mana yang lebih baik banyak pilihan atau sedikit pilihan?
Jawaban Pak Marsigit: Kamu menetapkan hidup kalau seperti ini. Dan ketetapan hidupmu itu akan mempersulit dirimu. Yang jauh atau terhindar dari yang telah diberikan kemurahan oleh orang yang membuat pilihan itu. Jadi ini pentingnya berfilsafat, merefleksikan diri, mana yang lebih baik banyak pilihan atau sedikit pilihan? Tergantung ruang dan waktu. Sedikit pilihan tergantung ruang da waktu. Pilih apa, kapan, dan dimana. Maka orang itu bisa pilih dua pilihan banyak dan seterusnya. Jadi tergantung apa yang dipilih, pilihannya sebagian tergantung ruang dan waktu.
Pertanyaan terakhir: Pandangan filsafat tentang kematian?
Jawaban Pak Marsigit: Mati menurut filsafat itu mitos. Karena ternyata dalam kitab suci, yang mati cuma fisiknya, jiwanya masih hidup kok. Setelah alam kubur akan ada kehidupan selanjutnya. Selamanya jika engkau berpikir mati itu tetap mati itulah yang namanya mitos. Itulah kebodohan, terjebak di dalam ruang dan waktu. Maka bangkit dari mitos menuju logos, artinya apasih yang dimaksud dengan mati? Mati raganya, mati jiwanya, amal dan perbuatannya dihitung, itu mati menurut kitab dan hadits.
            Kemudian perkuliahan ditutup dengan doa.

Intisari yang dapat saya simpulkan dari perkuliahan ini adalah:
1.        Filosofi dari nolisasi dalam test Pak Marsigit adalah bentuk peragaan subyek yang menuduh obyek secara semena-mena, dimana Pak Marsigit sebagai dosen adalah Subyek dan kami mahasiswa adalah obyeknya. Selain itu merupakan bentuk relatifitas antara dosen dan mahasiswa. Bahwa diantara dosen dan mahasiswa terdapat perbedaan. Sehingga Mahasiswa diharapkan untuk luruh egonya.
2.        Problem pendidikan kita yg sekarang sedang kita alami adalah membludaknya jumlah guru karena sertifikasi sehingga jumlah universitas keguruan bertambah dan menghasilkan banyak sarjana pendidikan yang mana banyak tidak terserap sehingga menambah angka pengangguran. Karena itu salah satu solusinya adalah mempersulit calon mahasiswa S1 untuk masuk jurusan pendidikan.
3.        Pekerjaan harus dikerjakan, jangan terlalu dipikirkan. Sesuatu itu dikerjakan jangan cuma dipikirkan. Hidup itu begitu, kerjakanlah pikiranmu dan pikirkanlah pekerjaanmu. Pikirkanlah doamu, doakanlah pikiranmu, kerjakanlah doamu, doakanlah pekerjaanmu.
4.        Dalam filsafat semuanya berstruktur berdimensi di dalam pikiran, dan pikiran itu adalah pintu gerbang menuju dunia masing-masing. Tapi tidak cukup jika tidak diimbangi dengan hati. Maka baik buruk dunia tergantung hatimu. Makna dari dunia tergantung pikiran.
5.        Mengabdi adalah salah satu sifat, sifat dari suatu sifat keadaan obyek terhadap subyeknya. Kalau obyek dengan obyek itu bukan mengabdi. Mengabdi itu istilah sosiologi dan psikologi, kultural budaya. Dalam filsafat mengabdi itu cuma suatu hubungan antara sifat satu dengan sifat yang lainnya.
6.        Keadaan itu digambarkan dengan etik dan estetika, ukurannya adalah etik dan estetika. Etika benar salah, estetika keindahan. Maka filsafat itu hakekat, kebenaran, keindahan yang kemudian dikombinasikan.
7.        Di filsafat tidak hanya multiple intelegent, tapi unlimited multiple intelegent. Multiple Intelegent itu istilah psikologi.
8.        Beda filsafat dan psikologi. Filsafat itu duduk di lobi, sedangkan psikologi sudah masuk ke gang-gang. Sehingga psikologi ada dua macam, psikologi terapan dan psikologi wacana. Sebagian dari psikologi wacana atau naratif, itulah filsafat.
9.        Dalam filsafat bukan menjawab konsep doa adalah apa, tetapi penjelasan dari aktivitas.
10.    Persoalan di dalam filsafat itu ada dua macam, yang dua macam ini gak pernah mencapai tetapi berusaha mencapai. Yang pertama adalah menjelaskan apa yang engkau ketahui yang ada di dalam pikiran dan kedua menjelaskan apa yang ada di luar pikiran.
11.    Sebenar-benarnya manusia tidak ada yang bisa menjelaskan. Apa yang kau pikirkan, hanya berusaha saja. Caranya dengan reduksi, menyebut beberapa sifat kunci dalam batas tertentu dimana satu sama yang lain pengetahuannya sama.
12.    Sebenar-benar hidup mengadakan yang mungkin ada, maka kerjakanlah hidup itu. Jangan malas.
13.    Sebenar-benar ilmu pengetahuan itu epistemologi atau filsafat ilmu. Sebenar-benar ilmu pengetahuan adalah epistemologi filsafat ilmu. Filsafatmu tidak ada apa-apa jika tidak ada ontologi dan aksiologinya.
14.    Filsafat berbicara tentang relatifitas bukan kepastian
15.    Mana yang baik itu tergantung ruang dan waktu.
16.    Mati menurut filsafat itu mitos.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih atas komentar anda. :)